Setangkai Mawar Untuk Jodohku


Di suatu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah, yaitu Universitas Negeri Semarang terdapat sebuah persahabatan yang terjalin antara lima orang mahasiswa. Dua perempuan dan tiga lelaki, mereka berlima sering telihat bersama dari kuliah sampai hanya sekedar nongkrong saja. Mereka adalah Jaka, Setyo, Pras, Vica dan Silfi.

Hari itu Jaka mengendarai motornya dengan begitu kencang karena tiba-tiba gerimis mulai menerpa tubuhnya. Sementara dalam tasnya terdapat buku yang ingin dikembalikan kepada temannya, Vica. Akhirnya dia sampai di kos Vica dengan keadaan sedikit basah. Di teras kos sudah terlihat Vica yang sudah menunggu kedatangan Jaka, seketika Vica mempersilahkan Jaka duduk di teras kosnya. Setelah mengembalikan buku, mereka berbincang-bincang cukup lama karena hujan justru mengguyur kota Semarang begitu derasnya. Dalam pembicaraan, Jaka terkaget dengan pertanyaan Vica. “Jaka, kita sudah bersahabat sejak lama. Berbagai momen telah kita lalui bersama. Tapi aku sadar sebenarnya ada hal lain yang membuat kita lebih dekat. Sebentar lagi kita akan lulus, aku tidak ingin pisah dengan temen-temen, terutama denganmu”.
Jaka pun bingung, “Vica maksudmu apa?”.
“Aku tahu sebenarnya kau juga suka denganku, kau sering memberikan perhatian lebih buatku. Temen-temen semua juga sudah tahu, Silfi, Pras dan Setyo. Aku ingin kita jadian”. Dengan terbata-bata Jaka menjawab “Vi Vica, memang benar aku suka padamu, tapi aku tidak ingin pacaran”.

Vica pun bertanya “Kenapa? aku sudah menolak banyak orang, karena aku ingin menunggu kejelasanmu”. “Maaf Vica, aku gak bisa” ungkap Jaka. Vica langsung meninggalkan Jaka sambil meneteskan air matanya. Vica menghilang kedalam kosnya tanpa berucap apapun kepada Jaka. Jaka bingung, apakah mau mengejarnya kedalam kos. Tapi dia urungkan niatnya itu karena itu adalah kos perempuan. Tak berselang lama, keluar Silfi dari dalam kos. “Jaka, kenapa Vica menangis?” tanya Silfi teman sekamar Vica yang juga sahabat Jaka.“Maaf Fi, Lebih baik kau tanya sendiri dengan Vica. Aku pulang saja” jawab Jaka sambil bergegas pulang. “Jaka, masih hujan” Silfi mengingatkan. Tapi tak berselang lama suara motor Jaka sudah mulai menghilang didalam derasnya hujan.

Pada hari-hari berikutnya, terlihat hubungan Jaka dan Vica semakin renggang. Itu terlihat saat lima orang mahasiswa itu berkumpul, Jaka, Vica, Silfi, Pras dan Setyo. Jaka dan Vica tak saling bicara, di saat seperti itu cuma Silfi yang tahu tentang itu. Sedangkan Pras dan Setyo belum tahu, hingga candaan dari Setyo yang sedang merayu Silfi membuyarkan kelima orang yang awalnya diam itu. “Silfi my honey, pujaan hatiku lagi baca buku apa” canda Setyo kala itu membuat semuanya tertawa. Sedangkan Silfi dengan agak sebal berkata “Setyo!, udah ah jangan begitu terus. Kamu ini!”. Silfi adalah seorang gadis cantik berjilbab yang sangat digandrungi oleh Setyo. Sudah dari dulu Setyo sangat menyukai Silfi, Setyo sudah beberapa kali mengungkapkan perasaannya tapi tetap saja Silfi tidak mau meresponnya. Silfi sangat ingat nasihat kedua orang tuanya di rumah yang sangat taat beragama yang melarang Silfi untuk pacaran. Sedangkan Setyo adalah seorang mahasiswa yang sangat percaya diri dan selalu terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Melihat itu Vica jadi berharap, andai Jaka mau memintanya jadi pacarnya. Tapi itu mustahil fikirnya, karena Jaka termasuk tipe laki-laki yang tak mau pacaran. Di samping Setyo ada Pras, dia bisa dibilang ketua dari perkumpulan para mahasiswa itu. Karena dialah yang selalu punya ide-ide dan banyak berkontribusi dalam setiap kegiatan mereka. Pras adalah anak orang kaya, tapi dibalik kekayaannya itu dia tidak menjadi orang yang sombong dan suka berfoya-foya. Dia sering membantu keempat temannya itu jika ada kesulitan, termasuk membantu Jaka saat dia kesulitan membayar uang kuliahnya. Jaka adalah mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, di antara teman-temannya itu dialah yang paling sederhana.

Tiba suatu saat yaitu hari ulang tahun Vica, Jaka berencana meminta maaf kepada Vica akibat peristiwa yang terjadi kala hujan itu. Setelah isya’ dia bergegas menuju kos Vica dengan menggunakan motor tua miliknya. Sesampainya di depan kos Vica, dia dengan hati gemetar melangkah pelan dengan menggenggam setangkai bunga mawar yang ingin diberikannya kepada Vica. Tetapi baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba Silfi keluar dari kos menghampiri Jaka. Sontak Jaka bertanya “Silfi, Vicanya ada?”.“Ada kok. Tapi Jaka, sebaiknya kamu jangan masuk dulu ya”. “Kenapa Fi?” Jaka penasaran. “Di dalam ruang tamu ada Pras” jawab Silfi. Setelah itu terdengar canda tawa dari dalam antara Pras dan Vica. Dari kejauhan Jaka melihat Pras memegang sebuah kue ulang tahun dan Vica sedang meniup lilinnya. Jaka terlihat sangat sedih kala itu. Mengetahui hal itu Silfi coba menenangkan, “Jaka, kalau jodoh itu gak bakal kemana. Allah pasti akan mengirimkan jodoh yang terbaik buatmu”. Tapi Jaka tetap terlihat sedih, “Iya Fi, makasih. Ini buatmu saja, Vica pasti tak membutuhkannya, dari pada aku buang”. Jaka pamit pulang seraya menyerahkan setangkai mawar itu kepada Silfi.

Beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa Vica dan Pras telah jadian. Itu membuat Jaka semakin bersedih, gadis cantik yang sangat disayanginya telah jatuh ke hati orang lain dan itu juga temannya sendiri. Sejak saat itu kala berkumpul bersama dengan keempat temannya itu Jaka agak terlihat kaku dan diam tidak seperti biasanya yang banyak berbicara kala mengobrol bersama. Karena Jaka sebelumnya dikenal sebagai sosok yang periang dan selalu ceria di hadapan teman-temannya.
Beberapa bulan kemudian upacara wisuda pun berlangsung, mereka semua dapat lulus bersama. Terlihat pula kala itu hubungan antar Vica dan Pras semakin harmonis. Diam-diam Jaka ternyata masih menyimpan perasaannya kepada Vica. Dahulu Jaka tidak mau berpacaran dengan Vica karena Jaka berencana setelah lulus akan bekerja dan segera meminang Vica. Jaka tidak ingin masuk kedalam dunia pacaran yang justru membuatnya banyak berbuat dosa. Karena Jaka sering melihat temannya pacaran selalu bermesra-mesraan dan berduaan. Jaka tidak ingin seperti itu, dan dia tidak ingin memainkan hati seorang wanita. Baginya cinta itu anugerah yang sangat indah yang harus dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Jadi dia berfikir kalau pacaran itu adalah haram. Di lain pihak masih terlihat Setyo yang masih berusaha mengejar Silfi tak kenal lelah untuk mendapatkan gadis solihah idamannya itu. Walau sering Silfi memberi tanda bahwa Silfi tidak berminat menerima cinta Setyo. Itu beralasan karena sebelum Setyo bergabung dengan Jaka, Pras, Vica dan Silfi. Setyo merupakan mahasiswa yang sering ganti-ganti cewek, itulah yang membuat Silfi tidak ingin bersama Setyo. Silfi sangat takut jika nanti akan dipermainkan oleh Setyo. Walau sebenarnya Setyo sudah meyakinkannya, karena semenjak Setyo bergabung dengan Silfi dan kawan-kawannya, Setyo tidak lagi suka berganti-ganti pacar dan memilih menjomblo dan mengejar Silfi. Setyo sudah tersadar bahwa bukan gadis cantik yang akan bisa selalu membahagiakan hatinya. Tapi adalah gadis solihah seperti Silfi lah yang bisa.

Beberapa tahun kemudian, mereka berlima saling terpisah satu sama lain dan bekerja di berbagai tempat terkecuali Pras yang melanjutkan bisnis perusahaan ayahnya dan Vica yang juga ikut bekerja di kantor perusahaannya itu. Setyo kini karena kepercayaan dirinya telah menjadi seorang presenter televisi lokal di kota Semarang. Silfi meneruskan yayasan pendidikan islam milik kedua orang tuanya di kota Ambarawa. Sementara Jaka menjadi seorang guru di sebuah SMA di kotanya, yaitu kota Pati. Jaka sangat kangen sekali dengan teman-temanya itu, dia ingin sekali bertemu dengan mereka. Jaka juga sudah mulai sedikit demi sedikit bisa melupakan perasaannya pada Vica yang sekarang sudah bersama Pras. Tiba-tiba Jaka melihat amplop dimejanya yang bertuliskan nama pengirim Dwi Pras Setiawan. Itu adalah nama lengkap dari sahabatnya yang telah berhasil mencuri hati orang yang sangat dicintainya dulu, dialah Pras. Dia pun membuka apa yang ada didalam amplop itu. Dia sungguh terkaget kala melihat isi amplop itu adalah kartu undangan pernikahan. Yaitu undangan pernikahan antara Dwi Pras Setiawan dan Vica Rahma Amalia yang akan dilaksanakan bulan depan. Jaka pun mulai teringat lagi dengan perasaannya dulu, dia sempat meneteskan air mata kala membaca dua orang temannya itu yang akan bersanding di pelaminan. Tapi akhirnya dia tersadar dan teringat dengan perkataan dari Silfi dahulu “Jaka, kalau jodoh itu gak bakal kemana. Allah pasti akan mengirimkan jodoh yang terbaik buatmu”. Jaka pun beristigfar dan mencoba menenangkan dirinya dengan mengambil air wudlu.

Hari pernikahan antara Pras dan Vica pun tiba, Pras dan Vica tampak terlihat bahagia. Ketiga sahabatnya pun datang memenuhi undangan. Acara akad nikah diselenggarakan di rumah Pras yang sangat megah di daerah Jepara. “Saya terima nikah dan kawinnya Vica Rahma Amalia binti Gunawan Arminto dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar tunai” kalimat itu diucapkan Pras dengan lancar. Disambut dengan suara “sah, sah, sah” dari para tamu undangan yang hadir. Dengan masih dalam kegundahan hati Jaka pun ikut berkata “sah”. Setelah itu terdengar suara penghulu yang mulai membacakan doa dengan penuh khidmad. Setelah acara akad nikah itu mereka berlima berkumpul dan saling bercanda tawa. “Wah kalian ini ya. gak ada kabar tiba-tiba langsung nikah saja” canda Setyo. “hemm, soalnya ini si Vica dia takut kalau aku diambil orang” jawab Pras yang seketika dicubit Vica karena jawabannya seperti itu. Vica selanjutnya berkata “Ya, daripada ditunda-tunda juga gak baik kan. Malah nanti bisa terjerumus ke lembah kemaksiatan. Ayo kapan kalian bertiga nikahnya?”. Dari pertanyaan itu Setyo, Silfi dan Jaka terdiam saling lihat bingung mau jawab apa. Jaka justru yang menjawab “Itu mungkin si Setyo yang sebentar lagi sama si Silfi”. “Eh enggak-enggak. Jaka omongannya jangan ngelantur deh ya” sahut Silfi secepatnya. Setyo justru menimpali “Iya juga gak papa”. Dari pernyataan Setyo itu membuat mereka berlima jadi tertawa.

Setelah itu Pras dan Vica pamit mau menemui para tamunya, tinggal Silfi, Jaka dan Setyo yang melanjutkan perbincangan tentang pekerjaan mereka. Di tengah asyiknya perbincangan, tiba-tiba datang dari arah belakang mereka suara yang menyapa mereka. “Hai Silfi” terdengar suara lembut seorang wanita. Ketiganya pun menoleh ke arah belakang mereka. Silfi langsung berkata, “Oh Dina, apa kabar” serambi langsung memeluk seorang wanita cantik berkerudung ungu yang tadi memanggilnya. Sementara itu Setyo dan Jaka tertegun melihat tiba-tiba ada gadis cantik yang sedang dipeluk Silfi. “Eh Jaka, siapa dia selama di kampus dulu aku gak pernah lihat” tanya Setyo. “Aku juga gak tahu bro” jawab Jaka. “Ehm ehm” suara Setyo yang memberi kode ke Silfi. “Oh iya perkenalkan ini sepupunya Vica, namannya Dina”. Setyo mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sambil memperkenalkan diri “Saya Setyo” tapi Dina mengankat kedua tangannya dan merunduk sambil berkata “Saya Dina sepupunya Vica”. Setyo pun tertunduk malu karena ternyata uluran tangannya dibiarkan saja. “Lha masnya namanya siapa” tanya Dina. “Saya Jaka, temen kuliahnya Vica dan Silfi” jawab Jaka.

Setelah itu Silfi dan Dina pun justru beranjak pergi meninggalkan Jaka dan Setyo. “Hei Setyo, gimana hubunganmu dengan Silfi” tanya Jaka kepada Setyo. “Ya masih sama seperti dulu, Silfi gak pernah memberi lampu hijau padaku. Padahal aku sudah berusaha dengan susah payah” jawab Setyo. “Oke bro jangan menyerah, yang penting berusaha” Jaka menyemangati. “Doanya ya Jak, akan kubuktikan pada Silfi bahwa aku benar-benar serius padanya, bulan depan nanti aku berniat mengajak keluargaku untuk melamarnya” ungkap Setyo dengan wajah yang mulai serius. Jaka pun mendengarkan keinginan temannya itu dengan seksama sambil mengangguk-angguk. Selanjutnya justru Jaka terdiam dan terlihat melamun memikirkan tentang pernikahan. Teman-temannya sudah berani mengambil langkah jelas untuk mengejar jodohnya. Dia masih berdiam diri tidak jelas menanti jodohnya. “Lha kamu sendiri bagaimana  Jak, masih mau mengejar Vica?” canda Setyo membuyarkan lamunan Jaka. “Ehhh ngaco kamu bro, dia sudah bersuami” jawab Jaka sambil menyenggol bahu Setyo diiringi tawa mereka berdua. “Gimana Jak, move on dongmove on. Masih banyak wanita di dunia ini gak cuma Vica saja. Dulu aja kamu sudah di depan mata bisa mendapatkan Vica, Eh malah gak mau. Tuh akhirnya diembat sama si Pras. hahaha” canda Setyo. “hehehe sudah-sudah, jangan diungkit-ungkit”. “Jak bagaimana tadi dengan si Dina, gadis berkerudung ungu itu. Cantik ya?” tanya Setyo. “Hus, kamu itu ya lihat gadis cantik dikit langsung jelalatan, katanya tadi mau meleamar Silfi eh malah mikirin Dina” gerutu Jaka. Setyo malah tersenyum dan berkata “Jaka, bukan untukku maksudnya. Mungkin tipe gadis seperti Dina itulah yang selama ini kamu idam-idamkan. Aku tahu Jak, aku sudah menjadi sahabatmu sejak lama. Dulu kamu gak mau memberi kejelasan pada Vica juga bukan saja karena kamu gak ingin pacaran kan, tapi karena Vica walaupun dia adalah gadis yang cantik dan baik tapi karena dia gak berjilbab kamu masih berfikir beribu-ribu kali” terlihat Setyo menasehati.

Tiba-tiba Setyo pergi meninggalkan Jaka yang masih terdiam begitu saja dan menghampiri Silfi dan Dina, terlihat Setyo berbincang-bincang dengan mereka dan selanjutnya justru Dina yang berjalan menghampiri Jaka dengan membawakan segelas minuman kepada Jaka. “Mas Jaka, mau minum” tawar Dina dengan tersenyum. Jaka pun kaget karena tiba-tiba melihat ada sosok wanita yang disampingnya menawari minum. “Ini pasti akal-akalan si Setyo” umpat Jaka dalam hati. Jaka pun menerima minuman yang dibawakan si Dina. Kemudian mereka terlihat berbincang-bincang cukup akrab. “Silfi, lihat mereka kelihatannya cepat akrab ya. Walau mereka baru kenal” Setyo berkata pada Silfi dengan santainya. “Iya sih, semoga Jaka bisa dapatkan jodoh terbaik baginya. Jaka itu orang baik, pasti Allah akan memberikan Jodoh yang baik pula padanya” Silfi menguatkan sambil menatap dan memperhatikan Jaka yang sedang berdiri bersama Dina yang sedang asyik bercanda tawa. Suara Setyo membuyarkan tatapan Silfi “Amiiin, semoga kamu juga” Setyo menambahi. “Ohh iya” jawab Silfi reflek.

Satu bulan kemudian tiba saatnya Setyo yang akan melamar Silfi. Dia sekeluargapun berangkat menuju Ambarawa untuk bisa membuktikan keseriusan dirinya kepada Silfi. Setyo Adi Laksono adalah nama lengkap dari Setyo, seorang lelaki yang pergi dari Pemalang untuk menuju Ambarawa berusaha mendapatkan gadis solihah pujaannya. “Assalamu alaikum. Jaka, hari ini aku akan melamar Silfi. Doakan aku ya semoga lamaranku diterima” Setyo menelfon Jaka. “Wa alaikum salam, oke semangat bro. yang terbaik buatmu dan buat Silfi” Jaka turut senang dengan perjuangan temannya itu. Jaka saat itu sedang bersama Dina yang sedang mengikuti pendidikan profesi guru di kota Semarang. Sejak pertemuan di pernikahan Vica terdahulu Jaka dan Dina menjadi semakin akrab dan sering bantu membantu. Karena mereka sama-sama berprofesi sebagai seorang guru SMA, walau jarang mereka bertemu. Karena jaraklah yang memisahkan mereka, Jaka bertempat di Pati sementara Dina di Tegal sama seperti Vica. Hingga kala itu mereka bisa berbincang-bincang langsung saling menceritakan pengalaman mereka sebagai seorang guru. Ditengah pembicaraan itu, tiba-tiba Dina memberikan sebuah kartu undangan kepada Jaka. “Mas Jaka, datang ya” ucap Dina. “Undangan apa ini?” tanya Jaka. “Insya Allah, akhir Maret nanti aku akan melangsungkan pernikahan” Dina menjelaskan. “Menikah?” tanya Jaka reflek. Jaka terkejut karena selama ini Dina tak pernah cerita tentang siapapun. “Iya mas, kaget ya. Aku memang gak pernah cerita dengan mas, ya karena memang tidak ada yang bisa diceritakan tentang rencana pernikahanku ini. Mas tau juga aku itu gak pacaran dengan siapapun. Ya bulan kemarin ada seorang yang dikenalkan ibunya Vica kepadaku. Dia laki-laki yang baik dan juga mapan. Jadi tak berselang lama, dia melamarku. Dengan keteguhan hati serta nasihat dari keluargaku aku pun menerimanya. Mas Agus namanya” Dina menjelaskan. “Hemm kalau gitu selamat ya, semoga acaranya bisa berjalan dengan lancar dan nanti bisa jadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah” Jaka mendoakan Dina dengan masih terkaget hatinya. “Mas Jaka kenapa, kok kelihatan jadi lemas begitu” tanya Dina. “Eh gak papa, cuma capek saja seharian ini mengikuti pelatihan” Jaka menyembunyikan kesedihannya. Jaka sebenarnya menaruh hati kepada Dina dia tapi tidak berani mengungkapkannya. Ini kedua kalinya Jaka harus merelakan seorang gadis di hatinya akan dipinang orang lain.

Di tengah malam Jaka masih merenungi dirinya yang kehilangan orang yang dia harapkan untuk jadi jodohnya. Di tengah ia sedang merenung, suara handphone miliknya berdering. Jaka melihat yang nelfon adalah Setyo. “Assalamu alaikum, bagaimana bro hasilnya. Pasti sukses kan” tanya Jaka. “Wa’alaikum salam. Alhamdulillah, tadi lancar tapi Silfi belum bisa menjawab lamaranku secara langsung. Dia meminta waktu satu minggu untuk memikirkannya dan meminta petunjuk dari Allah untuk membuat jawaban. Hehehe benar-benar harus bersabar aku Jak, tapi itu justru membuatku makin cinta pada Silfi. Dia terlihat makin Solihah” Setyo menjelaskan. “Iya Jaka, aku ingin kamu nanti minggu depan ikut bersamaku saat Silfi mengatakan jawabannya untukku. Aku ingin sahabatku turut ikut mendengar jawaban dari Silfi. Supaya kamu juga segera punya gambaran untuk menikah. Hahaha” canda Setyo. “Dasar kamu ya, mentang-mentang sudah tinggal tunggu jawaban. Oke, minggu depan aku ikut” Jaka mengiyakan.
Hari itu pun tiba, Setyo dan keluarganya pergi kerumah Silfi, tak ketinggalan Jaka yang ikut menemani Setyo. Dilain pihak, keluarga Silfi juga bersiap menanti keluarga Setyo dari Pemalang itu. Tapi terlihat raut muka Silfi yang masih gundah gulana, sebenarnya dia masih ragu mau menerima lamaran dari Setyo. Tapi karena nasehat dari orang tuanya yang sudah ingin melihat anaknya yang sudah berusia dua puluh lima tahun supaya segera menikah. Karena omongan dari tetangga yang mulai santer didengar oleh keluarga Silfi, bahwa Silfi terlalu pilih-pilih dalam menentukan jodohnya. Karena beberapa kali Silfi sudah menolak lamaran para pemuda yang ingin mempersuntingnya.

Dalam perjalanan, Setyo mengemudikan mobil dengan agak pelan karena gerimis kala itu menerpa jalan Semarang-Ambarawa. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah bus antar kota yang melaju kencang dan lepas kendali tepat di depan mobil yang ditumpangi Setyo. Setyo berusaha menghindarinya sebisa mungkin, sehingga mobilnya hanya tersempret bagian samping bus kota yang lepas kendali tadi. Tapi kecelakaan pun tak terhindari, Setyo terlihat masih panik mengendalikan mobilnya yang sekarang berada di luar jalan beraspal dan akhirnya “Braaaak” suara mobil Setyo menghantam sebuah truk yang sedang diparkir di pinggir jalan tepat di bagian sopir mobil Setyo. Semua orang dalam mobil lambat laun tersadar oleh kerumunan warga yang mulai menghampiri mobil Setyo. Jaka tersadar, tapi dia melihat darah yang mengalir dari kursi sampingnya, yaitu darah milik temannya yang sedang duduk di bangku sopir. Jaka langsung mencoba mengeluarkan Setyo dari dalam mobil, terlihat keluarga Setyo juga mulai membantu Jaka. Ternyata mereka yang berada di bagian belakang selamat. Jaka masih panik mencoba menyadarkan temannya yang berlumuran darah. Mobil warga datang dan segera membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Setyo langsung mendapatkan perawatan intensif di ruang Instalasi Gawat Darurat. Semuanya terlihat cemas, Jaka masih mondar-mandir dengan bajunya yang penuh darah. Sementara dari lorong rumah sakit terlihat Silfi yang berlari menuju Jaka sambil menangis menanyakan kabar Setyo. “Tenang Fi, Setyo pasti selamat. Karena hari ini adalah hari dia akan mendengar kabar bahagia darimu kan?” Jaka menenangkan. Silfi menangis tersedu-sedu melihat dari pintu IGD tapi dilarang oleh petugas. Akhirnya mereka semua duduk dengan was-was hingga seorang dokter keluar dari ruangan. “Alhamdulillah saudara Setyo dia selamat” dokter berkata. Silfi langsung sujud syukur mendengar kabar itu. Jaka, Silfi dan keluarga Setyo langsung masuk keruangan untuk melihat kondisi Setyo. Tapi masih terlihat Setyo yang belum sadarkan diri. Jam demi jam berlalu, “Silfiii” tiba-tiba terdengar suara Setyo dengan berat menandakan dia telah sadar. Semua yang ada dalam ruangan bersyukur melihat itu. Silfi pun mendekat, dan meneteskan air matanya melihat orang yang melamarnya itu terbaring lemah. “Tolong panggilkan semuanya” Setyo meminta. Semuanya pun berkumpul melingkari ranjang Setyo. “Semuanya, kurasa sebentar lagi aku akan mangahadap Allah. Ibu Bapak, Setyo minta maaf belum bisa bahagaikan ibu dan bapak serta sering berbuat salah. Silfi, maafkan aku yang selama ini selalu mengejarmu. Kau adalah gadis baik mungkin aku gak pantas untukmu, jadi Allah memanggilku lebih dulu sebelum kau menjawab lamaranku”. Semuanya nampak meneteskan air matanya. “Jaka, aku punya permintaan untukmu” Setyo terlihat semakin berat, Jaka pun mendekat dan berkata “Jika aku bisa pasti akan kulakukan”. “Jaka, kau adalah pemuda yang baik. Aku ingin kau menjaga Silfi. Aku minta, Jadikanlah Silfi menjadi is.. istrimu” suara Setyo semakin berat. Tiba-tiba Setyo mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah, Wa asyahadu anna muhammadar rosulallah”. Terlihat hembusan nafas serta detak jantungnya berhenti. Silfi pun menangis tersedu-sedu.

Dua minggu kemudian setelah pemakaman Setyo terlihat Silfi masih sedih dan teringat saat-saat dulu ketika hampir setiap saat Setyo selalu mendekatinya. Orang yang berharga itu akan terasa hilang saat dia telah tiada. Itulah yang bisa menggambarkan perasaannya. Di lain pihak Jaka yang sudah kembali ke Pati beberapa hari yang lalu juga merasakan kesedihan dan masih kurang fokus dalam kesehariannya dalam mengajar. Tiba-tiba telefon Jaka berdering, ternyata itu berasal dari bapaknya Setyo, Pak Harun. “Assalamu alaikum Jaka” Pak Harun memberi salam. “Wa alaikum salam” jawab Jaka. “Bapak ingin membuat Setyo tersenyum di alam sana. Bapak ingin mewujudkan permintaan terakhir Setyo kala itu. Maukah kau segera mewujudkannya nak” Pak Harun bertanya. Jaka lupa “Permintaan apa ya pak?”. “Jadikanlah Silfi menjadi Istrimu” jelas Pak Harun. Mereka berdua berbicara panjang lebar mengenai itu cukup lama. Intinya Jaka menyetujui permintaan Setyo dahulu dan menentukan hari yang tepat untuk melamar Silfi. Hari yang disepakati telah datang, Jaka beserta keluarganya serta keluarga Setyo juga ikut datang kerumah Silfi. Pihak keluarga Jaka menyatakan ingin melamar Silfi untuk Jaka. Begitu pula keluarga Setyo yang menguatkan permintaan keluarga Jaka tersebut. Orang tua Silfi menyerahkan semuanya kepada Silfi tentang keputusannya. Silfi pun berbicara “Saya sudah memikirkan matang-matang keputusan saya ini, sejak beberapa hari yang lalu saya sudah minta petunjuk kepada Allah tentang hal ini. Karena saya sadar permintaan dari mas Setyo dulu sebelum dia meninggal pasti akan Pak Harun sekeluarga dan Jaka coba wujudkan. Dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya menerima lamaran Jaka”. “Alhamdulillah” terdengar semuanya bersyukur.
Hari pernikahan pun tiba, akhirnya Jaka dan Silfi menjadi suami istri. Setelah akad nikah selesai Jaka menghampiri Silfi dia berkata, “Sekarang bolehkah aku memanggilmu dengan kata sayang?”. Silfi pun tertunduk malu seraya berkata “Apapun yang suamiku pinta, Insya Allah akan kuikuti jika itu suatu yang benar”. Jaka berkata kembali “Istriku sayang, ternyata benar kata-katamu dulu”. Silfi penasaran “Kata-kata apa suamiku?”. Inilah kata yang sering aku ingat “Kalau jodoh itu gak bakal kemana. Allah pasti akan mengirimkan jodoh yang terbaik buatmu”. Jaka melanjutkan “Dan hari ini Allah pun telah memberikannya, ternyata engkaulah gadis terbaik yang telah Allah gariskan untukku. Harusnya setangkai mawar dahulu kala itu langsung kuberikan padamu, bukan kuniatkan untuk Vica. Karena kaulah jodohku”. Akhirnya mereka menjadi sepasang suami istri yang hidup bahagia, seorang pemuda yang sabar menanti jodohnya dan menghindari pacaran hanya demi mendapatkan gadis yang solihah. Serta wanita solihah nan cantik yang selalu menjaga dirinya yang enggan asal-asalan menerima rayuan bahkan pinangan dari laki-laki yang menurutnya belum baik agamanya dan dia selalu meminta petunjuk dari Allah dalam memilih pasangan hidupnya. Akhirnya memang Allah itu pasti akan memberikan jodoh yang baik kepada hambanya yang baik pula. Seperti firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 26:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”
-Selesai-
SETANGKAI MAWAR UNTUK JODOHKU
Oleh Agus JP

*Kesamaan tokoh, suasana dan tempat hanyalah fiktif belaka

0 Response to "Setangkai Mawar Untuk Jodohku"

BERLANGGANAN GRATIS VIA EMAIL

Dapatkan Artikel Terbaru Dari Blog Mas Agus JP Melalui Email Anda.