DELAPAN POIN KONTRAK - Catatan Sang Bidikmisi Ke-3



Dunia baru kini kujalani, menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiwa. Aku sadar pula, aku bukanlah sekedar mahasiswa biasa. Aku adalah mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Aku disini dibiayai oleh negara, berbeda dengan mahasiswa lainnya yang mampu dibiayai orang tua mereka. Sering hinggap rasa takut di benakku, apakah status beasiswa yang aku terima ini akan terus berlanjut hingga aku lulus dan widuda nanti. Ntah mampu atau tidak, aku khawatir jika sewaktu-waktu beasiswa itu diberhentikan mungkin aku tak akan mampu untuk membiayai kuliahku. Terpaksa mungkin aku harus berhenti kuliah. Ah tidak fikirku, jika beasiswa ini diberhentikan maka aku akan cuti kuliah dan mencari uang dan kemudian akan aku lanjutkan lagi. Aku sangat ingin kuliahku ini bisa sampai lulus.
Rasa gundah pun sering menghinggapi fikiran, kala itu aku pun tak tahu bagaimana aku bisa mempertahankan beasiswaku dan juga sebaliknya, aku belum tahu apa yang bisa membuatku diberhentikan dari beasiswaku. Hingga pada suatu hari beredarlah pengumuman kepada seluruh mahasiwa bidikmisi untuk berkumpul di auditorium. Aku dan para mahasiwa bidikmisi pun datang berbondong-bondong. Wajah kami masih lugu dan polosnya, apapun yang diinformasikan jika itu wajib maka kami akan melaksanakannya. Begitu juga pada hari itu, aku lihat ratusan mahasiwa bidikmisi yang berkumpul di auditorium.
Acara pun dimulai, semua mahasiwa bidikmisi pun diam sejenak mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pihak kampus. Informasi yang sampai kepada kami, hari itu adalah
pengarahan tentang pengisian kontrak beasiswa. Mungkin ini akan memuat berbagai peraturan tentang apa yang harus kami lakukan dan juga apa yang tidak boleh kami lakukan sebagai penerima bidikmisi. Tiba-tiba kami pun ditunjukan dengan sebuah slide presentasi yang terpampang lebar di layar proyektor di depan auditorium, yang bertuliskan besar di atasnya “SURAT KONTRAK MAHASIWA BIDIKMISI”. Setelah itu, kemudian ada panitia yang membagikan selebaran kertas yang ternyata isinya juga sama dengan apa yang ada di layar proyektor itu. Termuat beberapa poin peraturan yang harus dilaksanakan seorang mahasiswa bidikmisi supaya bisa tetap dipertahankan beasiswanya. Jika tidak maka kebalikkannya, status penerimaan beasiswanya bisa diberhentikan.
Aku pun mendapatkan selembar kertas, begitu juga dengan teman-temanku. Kami pun mengisinya sesuai perintah yang disampaikan oleh panitia. Seperti ini lah tulisan dalam surat kotrak beasiswa bidikmisi di kampusku, Universitas Negeri Semarang.



Surat Kontrak Mahasiswa Penerima Beasiswa BIDIKMISI
Angkatan 2010
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama Lengkap                          :
NIM                                               :
bahwa saya adalah Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) penerima beasiswa Bidik Misi angkatan tahun 2010 menyatakan:
1.       Akan bersungguh-sungguh menjalani studi di Unnes dan mentaati semua ketentuan berikut:
A.      IPK > = 3,0
B.      Lulus tepat waktu (3 tahun untuk D3 dan 4 tahun untuk S1)
C.      Berperilaku sesuai dengan etika mahasiswa Unnes
D.      Menghadiri seluruh kegiatan yang diwajibkan sekurang-kurangnya 75% dari total kegiatan dalam satu semester.
E.       Sanggup tidak menikah selama mendapatkan beasiswa.
F.       Membuat proposal PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) sekurang-kurangnya  satu judul dalam setahun dan sebagai ketua.
G.     Mengikuti kegiatan rutin (setiap pekan) dalam rangka peningkatan soft skill mahasiswa.
H.      Aktif dan menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan  ditingkat Jurusan atau Fakultas atau Universitas.
2.       Bahwa semua persyaratan yang saya buat dalam rangka untuk mendapatkan beasiswa bidikmisi adalah benar.
3.       Bilamana saya tidak dapat memenuhi ketentuan diatas atau terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku di Unnes atau memberikan keterangan palsu dan berbohong dalam pengisian semua data atau mengundurkan diri setelah ditetapkan menerima beasiswa bidik misi, maka saya bersedia untuk menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Unnes
Demikian surat kontrak beasiswa ini saya buat secara sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Semarang, ...................

Materai Rp. 6000,-

(         )


Poin demi poin aku membacanya dengan seksama, ada delapan poin tepatnya. Delapan poin itu lah yang harus aku laksanakan. Pertanyaan mendasar pun hinggap di kepalaku,
“Apakah aku bisa melakukan semua ini ??? Apakah aku mampu ??? Jika tidak mampu bagaimana ???”
Seolah pertanyaan itu terdengar begitu keras, menanyakan dengan begitu tegas tanpa ada keraguan. Jawaban yang terpaksa harus aku jawab tak lain dan tak mungkin ada jawaban lain, selain kata “aku harus mampu”. Mungkin seperti itu lah yang dirasakan para mahasiwa bidikmisi yang lain di dalam ruangan itu, mereka kemungkinan besar pasti memikirkan itu sama sepertiku.
Acara itu pun berakhir, aku pulang dengan membawa sebuah tekad dan juga kekhawatiran. Tekad untuk bisa menjalankan kontrak itu dan kehawatiran jika tak bisa melaksanakannya. Aku pun menyadari delapan poin itu memang kelihatan begitu berat, namun aku ingat betapa beruntungnya aku bisa dapatkan beasiswa bidikmisi.  Menjadi seorang mahasiswa bidikmisi, aku mendapatkan sebuah kesempatan kuliah dengan beasiswa full study. Tidak ada bayar-bayar layaknya mahasiwa lain. Hanya beberapa keperluan yang memang harus bayar. Hal tersebut tentu semuanya harus berimbang dengan kewajiban yang harus kami lakukan. Ada hak maka ada pula kewajiban, itu lah tepatnya aku memaknai surat kontrak beasiswa bidikmisi itu.
Sebagai seorang mahasiswa bidikmisi, aku mendapatkan berbagai hak dari program beasiswa itu. Kuliahku gratis, tiada biaya yang harus aku bayar seperti uang masuk, SPL, SPP dan yang lainnya. Setiap bulan aku juga mendapat jatah biaya hidup sebesar Rp. 600.000,-. Tentu uang sebesar itu lebih dari cukup buatku untuk bisa bertahan hidup di kota Semarang. Delapan poin kontrak itu kurasa juga itu tak sebanding dengan semua hak yang aku dapatkan. Maka aku pun tak boleh terlalu mengeluh menganngap beban dalam menjalani kontrak itu.

Baca Juga : Keuntungan-Keuntungan Yang Bisa Didapatkan Ketika Menjadi Mahasiswa Bidikmisi
Delapan poin dari surat kontrak bidikmisi itu harus aku lalui. Kalau tidak, maka tentu aku harus dengan rela hati dicabut dari statusku sebagai seorang bidikmisi. Aku tetap tenang menghadapi itu, semuanya pasti bisa aku penuhi. Kalau tidak maka pupus sudah untuk menjadi seorang sarjana. Sia-sia sudah semua perjuanganku dulu kala mengejar bidikmisi. Satu kalimat yang cukup menenangkanku,

“Jika teman-temanku bisa, maka tentu aku bisa“

Baca juga : Hal-Hal Yang Membuat Beasiswa Bidikmisi Dicabut


Kalimat itu sungguh efektif bagiku, sehingga aku tak begitu takut menjalani kewajiban itu. Di hidup ini yang penting kan berusaha, ada niat ada semangat ada doa maka pasti semua bisa aku penuhi. Delapan poin kontrak itu lah yang ke depan akan menemaniku sebagai seorang mahasiswa bidikmisi. Delapan poin yang akan menjadi sebuah benang merah perjalanan seorang mahasiswa dalam menjalani kehidupan di kampus sebagai sang bidikmisi.

                                                                         --------@------

GORESAN HIKMAH

Pertama, Saat kita mampu menyadari siapa diri kita, maka kita harus mampu melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Berfikir kenapa Tuhan menempatkan kita pada kondisi saat ini. Seperti pisau yang tahu dirinya adalah pisau, maka ia akan memotong suatu benda. Seperti pena yang tahu dirinya adalah pena, maka ia seharusnya digunakan untuk menulis. Sering kali kita tak menyadari diri kita sendiri, tak begitu memikirkan kewajiban-kewajiban yang seharusnya kita kerjakan. Hanya sering menghitung hak-hak yang menurut kita pantas kita nikmati. Hal itu sama halnya dengan pisau yang selalu minta diasah saja, dan jarang dipakai. Atau pena yang minta diisi tinta terus, padahal jarang digunakan. Sebagai seorang mahasiswa penerima beasiswa, tentunya haruslah punya keinginan untuk bisa membuat pemerintah itu bangga. Setidaknya, lingkungan sekitar kita, kampus kita, teman-teman kita merasa bangga dengan semangat belajar kita dalam kuliah.

Kedua, Semakin besar sesuatu yang kita terima, maka semakin besar pula sesuatu yang harus kita berikan untuk membalasnya sebagai wujud rasa syukur. Mahasiswa bidikmisi mendapatkan berbagai keringanan dan berbagai fasilitas, tak sepantasnya kita mengeluh karena berbagai kewajiban yang harus kita lakukan. Ini lah kehidupan kita, layaknya seorang yang diberikan hadiah yang begitu besar. Tentu sebagai rasa terima kasih pada yang memberi, maka orang itu harus mampu membuat orang yang memberi itu tersenyum olehnya. Kita mahasiswa bidikmisi, untuk membuat negara Indonesia mampu tersenyum oleh kita slah satunya bisa dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang telah kampus kita tentukan. Hal itu adalah salah satunya, kita bisa berlomba-lomba membuat negeri yang besar ini mampu tersenyum oleh kita dengan cara kita masing-masing.

Ketiga, Sungguh baik dalam hal kebaikan itu jika orang lain bisa melakukannya maka kita pun harus berusaha bisa melakukannya pula. Kita memang telah diciptakan dengan perbedaan-perbedaan antara kita. Tak sama tingkat kekuatan dan kemampuan yang kita miliki. Sering kali kita menginginkan bisa seperti orang lain yang mampu melakukan suatu hal yang istimewa. Sangat menginginkan bisa memperoleh prestasi seperti yang lainnya. Sungguh aku juga ingin seperti itu, namun kadang kita banyak melamun oh itu begitu berat bagi kita untuk mencapainya. Seolah memang terasa begitu sulit dan sulit. Belum apa-apa kita sudah mengatakan itu sulit. Sering kali banyak hal yang sebenarnya mudah untuk bisa kita lakukan, namun karena kita berfikir itu sulit maka kita pun tak jadi melakukannya. Jika orang lain  bisa melakukan sesuatu yang istimewa atau meraih prestasi yang besar, tak  ada salahnya kan bagi kita untuk berusaha mencobanya pula. Mungkin kita pun akan berhasil seperti dirinya, karena nothing imposible and everything is posible. Hal itu karena kita punya Tuhan yang senantiasa melihat usaha kita, niscaya Tuhan pun akan memberikan balsan sesuai dengan tingkat usaha kita.

0 Response to "DELAPAN POIN KONTRAK - Catatan Sang Bidikmisi Ke-3"

BERLANGGANAN GRATIS VIA EMAIL

Dapatkan Artikel Terbaru Dari Blog Mas Agus JP Melalui Email Anda.